DEPOK, 7 Januari 2026 – Selama ini, keberhasilan pendidikan di Indonesia sering kali hanya diukur dari prestasi akademik. Namun, sebuah penelitian disertasi terbaru dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang dipertahankan oleh Neti Hernawati hari ini, menekankan pentingnya faktor kesejahteraan siswa (student well-being) sebagai fondasi utama pendidikan yang berkualitas.
Penelitian berjudul “Peran Motivasi Akademik dalam Memediasi Pengaruh Efikasi Diri Akademik dan Iklim Sekolah terhadap Kesejahteraan Siswa SMA di Wilayah Perdesaan Pegunungan dan Pesisir Jawa Barat” ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana latar belakang geografis memengaruhi kebahagiaan dan semangat belajar remaja.
Penelitian mengenai kesejahteraan siswa SMA kelas XI yang dilakukan ini berfokus pada daerah Jawa Barat, karena daerah ini masih belum merata kualitas pendidikannya. Adapun kesejahteraan siswa ini dikaitkan dengan faktor-faktor penting dalam belajar yaitu motivasi akademik, efikasi diri akademik serta persepsi siswa terhadap iklim sekolah di wilayah pegunungan dan pesisir Jawa Barat. Perbandingan wilayah pegunungan dan pesisir penting karena keduanya memiliki karakteristik geografis, sosial dan budaya yang berbeda signifikan. Wilayah pegunungan umumnya ditandai oleh komunitas yang lebih homogen, ikatan sosial yang kuat, serta pola kehidupan yang relatif stabil. Sebaliknya, wilayah pesisir cenderung memiliki mobilitas sosial yang tinggi, interaksi sosial yang lebih dinamis, serta tantangan ekonomi dan lingkungan yang lebih kompleks. Perbedaan karakteristik ini berpotensi memengaruhi efikasi diri akademik, motivasi akademik, iklim sekolah dan kesejahteraan siswa. Dengan membandingkan kedua wilayah tersebut, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran konteks geografis dan sosial dalam membentuk pengalaman pendidikan siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di wilayah pegunungan merasa lebih sejahtera dan menilai suasana sekolahnya lebih positif dibandingkan siswa di wilayah pesisir. Sementara itu, efikasi diri akademik dan motivasi akademik siswa relatif sama di kedua wilayah. Penelitian ini juga menemukan bahwa notivasi akademik dan iklim sekolah yang kondusif berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan siswa, baik di wilayah pegunungan maupun pesisir. Sebaliknya, efikasi diri akademik tidak secara langsung menentukan kesejahteraan mereka, tetapi dapat berpengaruh melalui motivasi akademik.
Penelitian ini juga menemukan ternyata ada perbedaan model peran motivasi akademik dalam menjembatani pengaruh efikasi diri akademik terhadap kesejahteraan siswa antara wilayah pegunungan dan pesisir, dengan peran yang lebih kuat di wilayah pegunungan. Perbedaan ini diduga berkaitan dengan motivasi akademik siswa pegunungan yang lebih tinggi, yang dipengaruhi oleh pandangan bahwa pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan taraf hidup. Sementara itu, kesejahteraan siswa di kedua wilayah tersebut lebih dipengaruhi secara langsung oleh iklim sekolah yang positif, terutama melalui kualitas hubungan dengan guru dan teman sebaya serta pemenuhan kebutuhan sosial dan emosional, dibandingkan melalui motivasi akademik.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, sekolah-sekolah SMA di Jawa Barat perlu memperkuat motivasi akademik, efikasi diri, dan menciptakan iklim sekolah yang positif agar dapat mendukung kesejahteraan siswa di wilayah pegunungan maupun pesisir. Intervensi yang dilakukan perlu untuk mempertimbangkan karakteristik sosial budaya dan geografis wilayah. Strategi yang disarankan untuk wilayah pegunungan antara lain memberikan pembelajaran berbasis proyek, melibatkan komunitas dan tokoh masyarakat. Sementara di wilayah pesisir, upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pembelajaran berbasis tantangan dengan unsur kompetisi sehat dan collaborative learning. Di kedua wilayah perlu melibatkan orang tua dan komunitas dalam strategi peningkatan kesejahteraan siswa, meningkatkan kompetensi pengajar, serta memperkuat peran orang tua dan layanan bimbingan konseling.
“Kesejahteraan siswa merupakan faktor penting yang selama ini kurang diteliti di Indonesia, padahal sangat berpengaruh pada perkembangan psikososial dan prestasi akademik,” ungkap Neti Hernawati dalam sidangnya. Diharapkan, hasil studi ini menjadi acuan bagi pembuat kebijakan untuk mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di Jawa Barat dan daerah lain di Indonesia dengan mempertimbangkan konteks sosial dan geografis.

