Doktor F. Psikologi UI Kaji Ekstremisme Bukan Sekadar Ideologi, Tapi Respons Terhadap Jiwa yang “Hancur”

DEPOK, 7 Januari 2026 – Mengapa ideologi radikal begitu memikat bagi sebagian orang namun tidak bagi yang lain? Sebuah penelitian doktoral terbaru yang dipresentasikan oleh Haykal Hafizul Arifin dalam sidang terbuka promosi doktor Fakultas Psikologi UI (FPSI UI) yang berlangsung pada 7 Januari 2026 di Aula Gedung D F. Psikologi UI, Depok. Haykal mengungkapkan bahwa akar ekstremisme bukan hanya soal paparan paham radikal, melainkan adanya kondisi psikologis yang disebut sebagai “Disintegrasi”.

Dalam disertasinya yang berjudul “Disintegrasi Psikologis pada Mindset Ekstemis”, Haykal menjelaskan bahwa kekerasan sering kali dipilih sebagai “jalan pintas” untuk menyembuhkan konflik batin yang mendalam.

Jiwa yang Retak: Prediktor Utama Ekstremisme

Melalui lima studi empiris, riset ini menemukan bahwa individu yang mengalami ketidakstabilan emosi, hilangnya tujuan hidup, dan kekacauan pikiran (disintegrasi) cenderung mencari solusi masalah yang cepat dan drastis.

“Kekerasan dianggap memiliki daya pemulihan yang paling pasti bagi mereka yang merasa jiwanya tidak utuh,” ujar Haykal. Temuan ini didukung oleh pengembangan alat ukur baru, Militant Extremist Mindset Scale, yang terbukti akurat dalam memetakan pola pikir ekstrem baik pada masyarakat umum maupun narapidana terorisme.

Salah satu poin yang penting dalam penelitian ini adalah peran perasaan berdosa dalam konteks agama. Individu yang merasa gagal memenuhi standar moral agama sering kali mengalami konflik psikologis hebat. Jika perasaan berdosa ini tidak dikelola dengan baik, narasi ekstremis akan masuk dan menawarkan kekerasan sebagai “jalan penebusan” atau pengorbanan diri untuk menghapus dosa tersebut.

Individu yang mempraktikkan pertobatan secara rutin dan memaknai pengampunan Tuhan secara personal menunjukkan ketahanan yang jauh lebih kuat terhadap ajakan ekstremisme. Artinya, rasa ampunan mampu meredam dorongan seseorang untuk melakukan aksi pengorbanan diri yang destruktif.

Paradigma Baru Pencegahan Terorisme di Indonesia

temuan ini menegaskan bahwa paparan ideologi ekstrem tidak secara otomatis menghasilkan radikalisasi. Dampaknya sangat bergantung pada kondisi psikologis individu. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deradikalisasi perlu melampaui pendekatan represif dan kontra-ideologis, dengan berfokus pada pemulihan keseimbangan psikologis, pengelolaan emosi, serta penyediaan jalur pemaknaan hidup yang tidak berbasis kekerasan. Dalam konteks keagamaan, pendekatan yang menekankan pengampunan dan pertobatan yang autentik berpotensi menjadi strategi efektif untuk mencegah ekstremisme dan mendukung reintegrasi sosial. “Paparan ideologi radikal tidak otomatis membuat seseorang menjadi ekstremis. Semua bergantung pada kondisi kesehatan jiwanya,” tutup Haykal dalam sidang promosi doktornya yang dipromotori oleh Prof. Dr. Mirra Noor MillaProf. Dr. Bagus Takwin, dan Ali Mashuri, Ph.D.