Kolaborasi UI dan Lintas Sektor: Hadirkan Riset Pelindungan Remaja di Era Digital

Depok, 31 Maret 2026 — Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPsi UI) menghelat Research to Practice Conference 2026 on Safety and Wellbeing of Urban Adolescents in the Digital Era in Indonesia: Insights and Results from Multi-Setting Projects di The Margo Hotel, Depok (30 dan 31 Maret). Konferensi ini mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi, mitra pembangunan, serta komunitas sekolah untuk memperkuat keselamatan dan kesejahteraan remaja di tengah kompleksitas era digital.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., dalam sambutan kuncinya menegaskan komitmen pemerintah untuk membangun generasi muda yang berkarakter menuju visi Indonesia Emas 2045. “Tema acara ini insightful dan sejalan dengan komitmen kami untuk membangun generasi muda yang berkarakter demi terwujudnya visi generasi Indonesia Emas di tahun 2045. Semoga hasil riset Safe Communities Safe Schools (SCSS) ini bisa diejawantahkan dan direplikasi di berbagai daerah lainnya di Indonesia,” ujarnya.

Ia turut menambahkan bahwa perlindungan terhadap pelajar dan remaja kini diperkuat melalui Permendikdasmen No. 6/2026 dan PP Tunas, yang mengatur tata kelola sistem elektronik dalam perlindungan anak, serta penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) dan 3S (screen time, screen zone, screen break).

Sementara itu, Prof. Marcel Tanner dari Fondation Botnar menekankan bahwa konferensi ini harus menghasilkan aksi nyata, bukan berhenti pada diskusi akademis. “Semoga konferensi ini tidak hanya menjadi wadah untuk berdiskusi, tapi nantinya mewujud pula dalam suatu kemitraan lintas sektor dan institusi. Dengan pembahasan SCSS di dalamnya, harapannya konferensi ini tidak hanya terbatas di ranah akademis ataupun berhenti di riset, tapi bisa jadi suatu rekomendasi kebijakan dan aksi riil yang bisa diimplementasikan tidak hanya di Banda Aceh maupun Depok, tapi juga ke seluruh Indonesia,” ujarnya.

Salah satu fokus utama dari pelaksanaan konferensi ini adalah pengembangan dan implementasi model Safe Communities Safe Schools (SCSS), yang telah diujicobakan di berbagai lokasi di Indonesia sebagai pendekatan terintegrasi dalam meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan remaja.

Terkait penelitian dan penerapan SCSS, Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU., menegaskan, “UI berkomitmen mendorong penelitian lintas disiplin yang berdampak nyata bagi keselamatan dan kesejahteraan remaja Indonesia. UI mendukung agenda Safe Communities Safe Schools (SCSS) sebagai upaya membentuk ekosistem yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang remaja secara menyeluruh.

Konferensi ini merupakan hasil dari empat tahun pembelajaran lintas lokasi (multi-setting) melalui kolaborasi Universitas Indonesia, Universitas Syiah Kuala (USK), CSPV University of Colorado Boulder (Amerika Serikat), DIGNITY (Denmark), serta dukungan signifikan dari Fondation Botnar (Swiss). Program ini diimplementasikan di berbagai sekolah di Depok dan Banda Aceh, memberikan pembelajaran penting tentang bagaimana pendekatan berbasis bukti perlu dipadukan dengan pemahaman konteks lokal agar efektif dan berkelanjutan.

Selain tokoh pemerintah dan mitra internasional, konferensi ini menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi dan praktisi, antara lain Prof. Heru Susetyo, Ph.D. (FHUI), Shr-Jie Sharlenna Wang, Ph.D. (DIGNITY), Dr. Rina Suryani Oktari (USK), Nurjannah, MD., Ph.D. (USK), Ferena Debineva, M.Psi.T. (FPsi UI), Dimas Prasetyo, M.Sc. (FPsi UI), Sabrina A. Mattson, PhD. (CSPV), dan Morten Olsen (DIGNITY). Perwakilan guru dan pelajar dari berbagai SMP di Depok dan Banda Aceh yang hadir turut memaparkan pengalaman praktik dari metode Safe Communities Safe Schools (SCSS), yang menjadi fokus utama konferensi.

SCSS merupakan model adaptif untuk keselamatan remaja dan pelajar di sekolah yang dikembangkan CSPV pasca terjadinya “Tragedi Penembakan Columbine” pada 1999. Adaptasi yang telah dilakukan di Indonesia sejak 2019 bertujuan memutus siklus kekerasan remaja, mencegah keterlibatan mereka dalam geng dan kelompok radikal, serta meningkatkan kesejahteraan remaja melalui intervensi di sekolah. Model ini menekankan keterlibatan komunitas, penguatan kapasitas sekolah, dan pengambilan keputusan berbasis data, sehingga dapat diterapkan di berbagai konteks budaya.

“Research to Practice Conference 2026” menjadi forum berbagi hasil riset, refleksi pengalaman implementasi, serta dialog kebijakan untuk memperkuat keselamatan dan kesejahteraan remaja di era digital. Konferensi ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti, sensitif terhadap konteks lokal, dan kolaborasi lintas sektor untuk menghasilkan dampak berkelanjutan bagi generasi muda Indonesia.

Sebagai penutup, Dekan FPsi UI, Dicky C. Pelupessy, Ph.D., menyampaikan, “Isu keamanan, keselamatan, kesehatan, serta kesejahteraan anak dan remaja membutuhkan lintas sektor dan disiplin untuk menanganinya, terlebih lagi dengan dinamika era digital saat ini. FPsi UI memosisikan diri sebagai institusi yang berperan dalam menjembatani antara penelitian dengan implementasi di lapangan. Harapan lain dari konferensi ini adalah agar bagaimana kita sebagai pendidik, orang tua, pembuat kebijakan, praktisi, dan peneliti dapat bekerja lebih selaras sehingga anak dan remaja tidak harus sendirian menghadapi tekanan, risiko digital, dan sistem yang cenderung terfragmentasi.”

Sumber: Siaran Pers UI 31 Maret 2026