DEPOK, 13 Maret 2026 – Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan individu untuk membedakan fakta dan hoaks menjadi tantangan krusial. Menanggapi fenomena tersebut, Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (F. Psi UI) kembali menggelar Research Day Seri 3 pada Jumat (13/03).
Acara yang berlangsung secara hybrid di Ruang smartclass Gedung B F. Psi UI ini, mengangkat tema mengenai mekanisme psikologis dan epistemologi sosial di balik kepercayaan terhadap misinformasi. Diskusi ini menghadirkan dua peneliti dari Laboratorium Psikologi Politik UI sebagai narasumber, dengan dipandu oleh Aryodi Wahyu, S.Psi., M.Si. selaku moderator.
Sesi pertama dibuka oleh Hasyim Asy’ari, S.Psi., M.Psi.T., Dosen Program Vokasi UI sekaligus Kandidat Doktor F. Psi UI. Dalam paparannya yang bertajuk “Logika atau Ikatan Relasional? Menguji Peran Analytical Reasoning dan Relational Trust dalam Memoderasi Pengaruh Trusted Endorsement terhadap Kepercayaan pada Berita Palsu”, Hasyim menyoroti dinamika kepercayaan di konteks masyarakat Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa secara alamiah, manusia memiliki kecenderungan untuk mempercayai informasi yang diterima (truth bias). Namun, kerentanan terhadap berita palsu tidak hanya soal kemampuan berpikir kritis semata.
Melanjutkan diskusi, Wawan Kurniawan, S.Psi., M.Si., yang hadir secara daring, memaparkan materi berjudul “Percaya Misinformasi? Menimbang Otoritas Epistemik dalam Menentukan Sumber Kebenaran”. Wawan mengajak peserta membedah bagaimana individu menentukan “sumber kebenaran” melalui kacamata truth discernment.
Wawan menjelaskan bahwa kemampuan membedakan informasi benar dan salah dipengaruhi oleh tiga pilar utama:
1. Classical Reasoning: Kemampuan berpikir analitis.
2. Motivated Reasoning: Penalaran yang didorong oleh kepentingan identitas.
3. Otoritas Epistemik: Kepada siapa kita memberikan mandat “kebenaran”.
Ia juga menggarisbawahi peran retrievability tingkat kemudahan akses untuk verifikasi mandiri serta bagaimana identitas sosial menjadi filter utama yang menentukan apakah seseorang akan menerima atau menolak sebuah klaim informasi.
Antusiasme peserta terlihat pada sesi tanya jawab yang mendalam. Berbagai isu krusial dibahas, mulai dari sejauh mana latar belakang pendidikan mampu membentengi seseorang dari hoaks, hingga tantangan nyata dalam menavigasi informasi di media sosial yang sering kali mengaburkan kredibilitas sumber.
Kegiatan Research Day ini diharapkan dapat menjadi sarana riset yang bermanfaat bagi publik, memberikan pemahaman baru bahwa melawan misinformasi memerlukan lebih dari sekadar data dan memerlukan pemahaman atas cara kerja pikir dan ikatan sosial kita.
Kontak Media:
Humas Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia



