Apa yang membedakan seorang juara dengan atlet lainnya saat mereka berdiri di garis start yang sama? Di level internasional seperti SEA Games, perbedaan itu seringkali bukan lagi soal kekuatan otot atau kecepatan, melainkan apa yang terjadi pada mental para atlet. Di tengah sorak-sorai kemenangan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025, ada yang ikut bekerja di pinggir lapangan. Ia tidak ikut bertanding secara fisik, namun ia memastikan mental atlet tetap dalam kondisi prima.
Kamaludin Ramdan Ramayuda (Kamaludin), seorang mahasiswa S2 Psikologi Olahraga UI menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan mental para patriot olahraga kita. Kehadirannya pada gelaran SEA Games Thailand 2025 yang berlangsung di Bangkok, 7–20 Desember 2025, menjadi bukti nyata bagaimana kepakaran akademis mampu memberikan dampak nyata bagi prestasi olahraga internasional. Kamaludin memiliki kapasitas yang mumpuni untuk melakukan pendampingan psikologis bagi para atlet yang disesuaikan dengan kepakaran studinya, yakni psikologi olahraga.
Pendampingan Berbagai Cabang Olahraga: Dari Judo hingga Badminton
Perjalanan Kamaludin dalam mendampingi atlet nasional bukanlah hal baru. Kehadirannya di Bangkok merupakan kelanjutan dari dedikasi panjangnya sejak SEA Games Vietnam 2021, SEA Games Kamboja 2023, Asian Games Hangzhou 2023, hingga Olympic Paris 2024. Hasilnya pun nyata.
Tim Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Judo yang didampinginya berhasil mencapai puncak prestasi dengan membawa pulang empat medali emas, dua perak, dan satu perunggu. Tak hanya itu, kontribusi pendampingan psikologisnya juga merambah ke Tim Ice Skating (tiga perak, tiga perunggu) serta sektor tunggal putra Badminton yang sukses menyabet dua medali emas dan sektor ganda campuran meraih satu perunggu.
Rahasia di Balik Performa: Psychological Support vs Mental Training
Dalam menjalankan tugasnya, Kamaludin menjelaskan bahwa pendekatannya terbagi menjadi dua pilar utama yang saling melengkapi. Pertama adalah Psychological Support. Ini berfokus pada well-being atau kesejahteraan mental atlet. Melalui sesi konseling, atlet diberikan ruang aman untuk mencurahkan tekanan yang mereka rasakan. Kedua adalah Mental Training, yakni latihan terstruktur untuk meningkatkan performa.
“Pendekatan yang dilakukan mencakup upaya menjaga kesehatan mental atlet melalui sesi konseling, serta mental training untuk meningkatkan performa. Latihannya meliputi imagery training, self-talk positif, hingga pengelolaan kecemasan dan emosi,” ujar Kamaludin.
Sinergi Akademis dan Pengalaman Lapangan
Keberhasilan Kamaludin tidak lepas dari dukungan komunitas profesional. Meski bergerak sendiri di lapangan, ia didukung penuh oleh Ikatan Psikologi Olahraga- Himpunan Psikologi Indonesia (IPO-Himpsi). Nama-nama besar di dunia psikologi olahraga yang menjadi dosen Kamaludin selama menempuh studi, seperti Ibu Lilik Sudarwati, Taru Guritna, Yuanita Nasution, dan Irwan Amrun menjadi teman diskusi krusial dalam menangani kompleksitas permasalahan atlet. Keunggulan utama Kamaludin adalah latar belakangnya yang merupakan eks-atlet dan eks-pelatih. Hal ini membuat program mental training yang ia susun tidak terasa “asing” bagi atlet karena telah diselaraskan dengan periodisasi latihan fisik dan teknik.
“Prestasi ini bukan hanya soal mengejar medali, tetapi tentang bagaimana mental disiapkan sebagai pondasi penting. Ketika atlet merasa aman secara psikologis dan mampu mengelola tekanan, maka performa terbaik akan muncul secara alami di momen paling krusial,” tegas Kamaludin.
Mental Bukan Lagi Pelengkap
Mengutip sebuah prinsip penting dari Chris Pomfert, Kamaludin menekankan: “Performance Consistency is the result of Psychological Consistency” (Konsistensi performa adalah hasil dari konsistensi psikologis).
SEA Games 2025 membuktikan bahwa kesiapan mental bukan lagi sekadar pelengkap atau “obat” saat atlet sedang bermasalah. Mental adalah kebutuhan utama dalam prestasi olahraga level internasional. Melalui pendampingan psikologis yang tepat, atlet Indonesia membuktikan bahwa dengan pikiran yang tenang dan fokus yang tajam, bendera Merah Putih bisa berkibar paling tinggi di kancah internasional.
Kamaludin adalah potret bagaimana mahasiswa S2 Psikologi Olahraga Fakultas Psikologi UI tidak hanya berkutat di ruang kelas, tetapi juga turun ke gelanggang untuk mengharumkan nama bangsa. Dengan pendekatan psikologi olahraga, Indonesia tidak hanya mencetak juara, tetapi juga atlet yang sehat secara mental dan tangguh dalam menghadapi tantangan dunia.

