DEPOK – Kehilangan adalah salah satu momen terberat dalam hidup, dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (F.Psi UI) mengundang kita semua untuk pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri saat berduka. Berduka adalah respons psikologis dan proses adaptasi yang wajar setelah kita kehilangan sesuatu, sehingga proses ini butuh waktu dan tidak bisa dipaksa cepat selesai. Saat berduka, perasaan kita bisa campur aduk mulai dari sedih, marah, takut akan masa depan, merasa bersalah, hingga kecewa dan semua emosi itu sangat normal. Meski demikian, kadang muncul pikiran keliru seperti merasa diri lemah atau menganggap dunia tidak adil, yang justru membuat perasaan kita makin kacau dan terpuruk.
Kita perlu tahu bahwa proses berduka setiap orang berbeda-beda, kita mungkin inginnya cepat membaik, padahal kenyataannya proses ini penuh dengan fase naik-turun. Ada orang yang bisa bangkit dengan cepat, tapi ada juga yang memerlukan waktu seumur hidup untuk menerima dengan rasa kehilangan tersebut. Seringkali dengan mencoba mengambil jarak dari pikiran buruk yang muncul dan mengijinkan saja pikiran atau perasaan itu datang dan pergi tanpa perlu ditahan atau diusir bisa membuat kita merangkul kedukaan kita. Duka cita adalah cinta yang sedang mencari rumah. Kita bisa mengijinkan duka datang berkunjung kepada kita. Bersama perasaan duka, kita bisa juga menyayangi diri sendiri dan mengatakan pada diri bahwa ini adalah masa-masa yang sangat berat.
Lewat pesan ini, Fakultas Psikologi UI ingin mengundang kita yang berduka bahwa kita tidak sendirian dan tidak harus melewati masa sulit ini sendirian. Menerima rasa sedih dan menjalani prosesnya perlahan adalah langkah awal yang baik untuk kesehatan mental kita. Jika duka terasa berat dan tak tertahankan, berbagilah kepada orang terdekat. Bila memang terasa perlu, hubungilah profesional yang bisa membantu, karena mencari bantuan adalah tanda bahwa kita mengasihi diri kita.
Kontak Media:
Humas Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia

