{"id":9656,"date":"2025-07-15T03:17:55","date_gmt":"2025-07-15T03:17:55","guid":{"rendered":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/?p=9656"},"modified":"2025-07-15T03:35:43","modified_gmt":"2025-07-15T03:35:43","slug":"kebahagiaan-menurut-orang-muda-samakah-dengan-bahagiamu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/2025\/07\/15\/kebahagiaan-menurut-orang-muda-samakah-dengan-bahagiamu\/","title":{"rendered":"Kebahagiaan Menurut Orang Muda, Samakah dengan Bahagiamu ?"},"content":{"rendered":"\n<p>Masa muda\u00a0sering digambarkan sebagai fase terindah dalam hidup. Saat berada di masa muda, individu memiliki kondisi fisik terbaik, semangat tinggi, serta kesempatan yang luas untuk bereksplorasi dan berpetualang mencoba banyak hal baru. Namun, realita saat ini menunjukkan bahwa banyak orang muda mengalami tekanan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Di balik tawa, senyum, dan caption penuh semangat di media sosial, ternyata orang muda menyimpan kegelisahan akan masa depan, tuntutan untuk cepat \u2018dewasa\u2019, dan perasaan terasing di tengah dunia digital yang cepat berubah. National Bureau of Economic Research mencatat bahwa sejak tahun 2008, orang muda menunjukkan penurunan kepuasan hidup dan kebahagiaan yang paling tajam dibandingkan dengan kelompok usia lain (Twenge &amp; Blanchflower, 2025). Hal ini memperlihatkan bahwa masa muda yang dulu dianggap sebagai saat terbaik dalam hidup, kini menjadi periode yang penuh tantangan emosional.<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena penurunan tingkat kebahagiaan pada orang muda menunjukkan bahwa banyak dari mereka merasa hidupnya tidak sesuai dengan harapan atau standar kebahagiaan yang mereka pikirkan. Tampak adanya semacam benturan antara kenyataan hidup yang dialami&nbsp; dan apa yang sebenarnya mereka inginkan untuk merasa bahagia. Oleh karena itu, penulis merasa penting untuk memahami makna kebahagiaan orang muda sehingga dapat tercermin nilai, harapan, dan kebutuhan emosional mereka. Artikel ini menyajikan hasil survei online kualitatif yang penulis lakukan pada akhir tahun 2023, terhadap 303 orang muda (usia 18-29 tahun) di Indonesia. Survei bertujuan untuk memahami bagaimana orang muda memaknai dan menjelaskan kebahagiaannya di tengah kondisi yang (mungkin) tidak selalu mendukung. Pemaknaan kebahagiaan orang muda diyakini akan menjadi dasar penilaian tingkat kebahagiaan mereka.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Kebahagiaan merupakan suatu emosi\/perasaan positif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saat merespons pertanyaan \u201cmenurut saya, kebahagiaan adalah\u2026\u201d, mayoritas partisipan orang muda (59.4%) menyatakan bahwa kebahagiaan adalah suatu emosi\/ perasaan positif yang berkaitan dengan rasa senang,\u00a0 tenang, dan puas. Hal ini sesuai dengan pemaknaan kebahagiaan menurut KBBI (kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup lahir batin (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.))<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKondisi emosi yang menimbulkan perasaan senang serta puas dengan situasi dalam hidup yang sedang dijalani\u201d (Sisca, 20 tahun, mahasiswi, Jakarta)<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Perasaan positif terkait perolehan keinginan dan harapan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Survei menunjukkan bahwa mayoritas partisipan memaknai kebahagiaan sebagai perasaan positif yang dihubungkan dengan situasi saat memperoleh sesuatu yang diinginkan atau diharapkan, misalnya materi atau pencapaian keberhasilan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKebahagiaan adalah rasa senang ketika kita mendapatkan suatu hal yang kita impikan\u201d (Ilham, 19 tahun, mahasiswa, Depok)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKebahagiaan adalah bentuk kepuasan yang didapat dari suatu hal. Baik itu benda, perlakuan, prestasi, dan lain sebagainya\u201d (Surya, 21 tahun, mahasiswa, Sumatera Barat)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKebahagiaan adalah saat hidup saya tenang dan memiliki pekerjaan tetap yang menghasilkan\u201d (Anggi, 21 tahun, mahasiswi, Tangerang )<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Tidak hanya tentang memperoleh keinginan, namun juga ada proses dan rasa syukur <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Apabila orang muda hanya memprioritaskan keinginan dan harapan, tentu saja mereka hanya akan bahagia jika memperolehnya. Namun, orang muda ternyata juga menemukan cara untuk \u2018berdamai\u2019 dengan keadaan, yaitu saat mereka berfokus pada pentingnya proses serta hal terkait spiritualitas, seperti rasa syukur dan ikhlas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKebahagiaan adalah ketika kita bisa menikmati dan mensyukuri apa saja hal-hal yang terjadi di hidup kita\u201d (Aris, 18 tahun, Pelajar, Bogor)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKebahagiaan adalah keadaan dimana saya bisa merasakan kenikmatan dalam hidup saya, dan tidak dipungkiri dalam kenikmatan tersebut juga terdapat perjuangan yang harus dilalui terlebih dahulu.\u201d&nbsp; (Bunga, 20 tahun, mahasiswi, Surabaya)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBahagia adalah ketika kita melihat\/mendengar\/merasakan\/menilai sesuatu hal dengan rasa ikhlas\u201d (Agung, 25 tahun, PNS, Jakarta)<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Pentingnya kehadiran orang lain dan dukungan emosional <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kebersamaan dengan orang lain juga menjadi bagian penting dalam pemaknaan kebahagiaan bagi orang muda, terutama terkait dukungan dari orang-orang yang mereka anggap penting. Banyak orang muda merasa bahagia saat bersama keluarga, didengar oleh teman, atau dicintai oleh orang-orang terdekat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIntinya bahagia ada orang yang selalu peduli dengan kita dan selalu support tentang kita.\u201d (Bella, 18 tahun, mahasiswi, Jawa Tengah)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKebahagiaan adalah mendapatkan segalanya seperti pengertian, kasih sayang, dukungan dari orang tersayang\u201d (Karin, 19 tahun, mahasiswi, Jawa Tengah)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBahagia adalah merasakan emosi positif ketika berada dalam momen yang menyenangkan, seperti dapat berkumpul dengan keluarga, mendapatkan hadiah, berada dalam lingkungan yang positif saling support dll\u201d (Ema, 28 tahun, Ibu Rumah Tangga, Aceh)<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tidak ada beban atau masalah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p> Dalam memaknai kebahagian, orang muda juga berfokus pada kondisi saat dirinya tidak memiliki beban atau masalah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagi saya kebahagiaan itu ketika saya bangun tidur tidak dengan keributan, ketika saya menjalani hari-hari tanpa rasa takut menemui hari esok..\u201d (Sari, 18 tahun, mahasiswi, Jawa Tengah)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDisaat tidak ada tekanan, bahaya, beban atau apapun yang membuat saya cemas\/tidak tenang\u201d&nbsp; (Sekar, 21 tahun, mahasiswi, Jawa Tengah)<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKebahagiaan adalah perasaan saat kita tidak terbebani suatu hal\u201d (Reza, 21 tahun, mahasiswa, Yogyakarta)<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Apa yang bisa kita pelajari dari hasil survei orang muda ini?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari ratusan jawaban yang dituliskan oleh orang muda Indonesia dalam survei terlihat bahwa persepsi tentang kebahagiaan sangat beragam. Hal ini didasarkan pada berbagai faktor yang dianggap penting oleh mereka. Kebahagiaan bagi orang muda tidak hanya terkait dengan emosi atau perasaan positif yang tampil dalam ekspresi wajah positif, seperti senang, gembira, senyum, dan tawa, tetapi juga pada pentingnya nilai spiritualitas dan religiusitas serta relasional. Kedua bentuk pemaknaan ini menggambarkan nilai agamis dan kolektif khas budaya indonesia (Jaafar dkk., 2012). Orang muda banyak mengaitkan kebahagiaannya dengan perolehan prestasi\/ pencapaian,\u00a0 hubungan sosial, spiritualitas, hingga rasa tidak terbebani.<\/p>\n\n\n\n<p>Memahami bagaimana orang muda memaknai kebahagiaan bukan hanya penting bagi peneliti, orang tua, atau praktisi yang banyak berhubungan dengan kaum muda, tetapi hasil studi ini juga penting sebagai pengetahuan bagi orang muda itu sendiri. Makna kebahagiaan bersifat sangat subjektif. Bagaimana dirimu menilai bahagiamu sangat terkait dengan pengalaman dan nilai kehidupan yang penting bagimu. Bisa jadi, \u201cbahagiamu\u201d tak sama dengan \u201cbahagia mereka\u201d, dan itu tidak mengapa. Jangan takut temukan arti bahagiamu untuk tingkatkan semangatmu meraihnya. Semua orang berhak untuk bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, apakah bahagia mereka sama dengan bahagiamu ?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penulis: Eko Handayani, M.Psi., Psikolog dan Salsabila Afriani, S.Psi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/women.okezone.com\/read\/2025\/07\/14\/612\/3155197\/kebahagiaan-menurut-orang-muda-samakah-dengan-bahagiamu\">https:\/\/women.okezone.com\/read\/2025\/07\/14\/612\/3155197\/kebahagiaan-menurut-orang-muda-samakah-dengan-bahagiamu<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masa muda\u00a0sering digambarkan sebagai fase terindah dalam hidup. Saat berada di masa muda, individu memiliki kondisi fisik terbaik, semangat tinggi, serta kesempatan yang luas untuk bereksplorasi dan berpetualang mencoba banyak hal baru. Namun, realita saat ini menunjukkan bahwa banyak orang muda mengalami tekanan hidup. Di balik tawa, senyum, dan caption penuh semangat di media sosial, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":9667,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"class_list":["post-9656","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9656","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9656"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9656\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9671,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9656\/revisions\/9671"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9667"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9656"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9656"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9656"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}