{"id":8260,"date":"2024-08-05T03:38:04","date_gmt":"2024-08-05T03:38:04","guid":{"rendered":"https:\/\/dev-psikologi.ui.ac.id\/?p=8260"},"modified":"2024-09-26T03:38:37","modified_gmt":"2024-09-26T03:38:37","slug":"kontribusi-psikologi-pada-penciptaan-inovasi-untuk-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/2024\/08\/05\/kontribusi-psikologi-pada-penciptaan-inovasi-untuk-negeri\/","title":{"rendered":"Kontribusi Psikologi pada Penciptaan Inovasi Untuk Negeri"},"content":{"rendered":"\r\n\r\nDepok, 18 Juli 2024. \u201cInsanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.\u201d Pernyataan Albert Einstein tersebut dikutip oleh Prof. Corina D. S. Riantoputra Ph.D, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada peringatan Dies Natalis Ke-64, Jumat (5\/7) lalu. Menurutnya, inovasi perlu dilakukan karena masalah bangsa\u2014yang meliputi masalah ekonomi, tingkat pendidikan, transformasi digital, masalah kesehatan mental, pengangguran terbuka, dan tantangan tata kelola\u2014semakin besar.\r\n\r\n\r\n\r\nProf. Corina menyebut bahwa tantangan tersebut dapat dihadapi dengan tiga hal, yakni cara pikir out of the box, karakteristik individu yang inovatif, dan pemimpin yang mendorong inovasi. Kata \u2018box\u2019 dalam istilah \u201cberpikir out of the box\u201d adalah ruang alternatif ide yang dimiliki seseorang, yang dibatasi oleh berbagai hal, misalnya batasan hukum, disiplin ilmu, pendekatan, dan tradisi. Jadi, berpikir out of the box adalah cara pikir yang keluar dari batasan-batasan sempit yang membuat ide yang dihasilkan adalah ide baru.\r\n\r\n\r\n\r\nCara pikir out of the box dapat dicapai melalui beberapa hal, antara lain keterbukaan terhadap disiplin ilmu lain (misalnya dalam bentuk pendekatan multi-disiplin, inter-disiplin dan trans-disiplin); kolaborasi antara akademisi dan praktisi; serta kolaborasi antargenerasi. Tradisi atau standar industri juga perlu didiskusikan ulang. Sekalipun batasan yang membentuk \u201cbox cara piker\u201d perlu dibuat lebih fleksibel, tetapi satu batasan tidak boleh fleksibel, yaitu batasan hukum. Batasan hukum, moral, dan etis perlu dipertahankan tetap tegas.\r\n\r\n\r\n\r\nDalam melahirkan inovasi, individu yang inovatif juga memiliki peran penting. Individu ini memiliki tiga karakteristik, yaitu curiosity, courage, dan contributive goals. Mereka yang memiliki curiosity (rasa ingin tahu) cenderung memiliki keingingan untuk belajar lebih banyak. Namun sayangnya, pendidikan di Indonesia terkadang membatasi rasa ingin tahu anak-anak.\r\n\r\n\r\n\r\n\u201cThe killing fields terjadi dengan pendidikan kita. Analoginya, ada lapangan dengan ranjau tersebar di mana-mana. Orang tidak melihat ranjaunya, tetapi mereka bisa tewas ketika menginjaknya. Itulah pendidikan kita. Anak-anak dimarahi ketika bertanya. Ketika jawaban tidak sesuai, mereka dibilang bego amat. Maka, tidak heran, ketika masuk kuliah, mereka tidak mampu lagi bertanya. Padahal, Claude L\u00e9vi-Strauss mengatakan, the wise man is not he who gives the right answers, he is the one who ask the right questions,\u201d kata Prof. Corina.\r\n\r\n\r\n\r\nDalam berinovasi, individu harus miliki keberanian (courage). Ada dua hal yang membuat orang berani berbeda pendapat, yakni kepribadian openness to experience (orang-orang yang mau melakukan banyak hal) dan incentive. Insentif ini tidak harus berupa finansial, tetapi juga non-finansial yang bermakna. Selain itu, individu inovatif harus memiliki contribute goals. Karena inovasi membutuhkan biaya mahal, peneliti atau anggota organisasi yang terlibat harus berfokus pada organisasi, bukan kepentingan pribadi.\r\n\r\n\r\n\r\nIde ketiga yang berperan penting dalam menumbuhkan inovasi adalah pemimpin yang mendorong inovasi. Dalam hal ini, pemimpin harus mampu melihat potensi dan tidak terkesima sekadar dengan gelar. Pemimpin juga harus menyediakan ruang dan waktu diskusi \u201cyang santai\u201d agar ide-ide anggotanya dapat tertampung dengan baik. Ia harus membaca hambatan yang dihadapi organisasinya dan membangun kolaborasi dengan pihak eksternal untuk mengatasi hambatan tersebut.\r\n\r\n\r\n\r\n\u201cDalam proses penciptaan inovasi, pasti ada kesalahan. Jika itu terjadi, pemimpin perlu berdiri di depan, berani bertanggung jawab. Ini akan menjadi contoh bagi anggota organisasinya, bahwa pemimpin dan anggota berjuang bersama. Ini adalah salah satu cara pemimpin membangun penghayatan ke-kita-an, sehingga pegawai merasa saya aman berjuang untuk organisasi ini,\u201d kata Prof. Corina.\r\n\r\n\r\n\r\nPerayaan Dies Natalis Ke-64 Fakultas Psikologi UI bertema \u201cInovasi untuk Kebahagiaan dan Kesejahteraan Indonesia\u201d diadakan di Auditorium Gedung H, Fakultas Psikologi UI. Turut hadir pada acara tersebut Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, drg. Nurtami, Ph.D., Sp,OF(K); Dekan Fakultas Psikologi UI, Prof. Dr. Bagus Takwin, M.Hum., Psikolog; Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan BUMN, Rise dan Inovasi, Elen Setiadi, S.H., M.S.E.; serta banyak praktisi dari berbagai perusahaan dan lembaga.\r\n\r\n\r\n\r\nDalam sambutannya, drg. Nurtami menyampaikan bahwa di era disrupsi dan perubahan yang demikian cepat, inovasi sosial menjadi kunci utama untuk menuntaskan masalah-masalah yang ada di masyarakat. \u201cKami percaya Fakultas Psikologi UI dengan seluruh sumber daya yang dimiliki bisa menjadi motor penggerak inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat. Kami juga mengajak seluruh sivitas Fakultas Psikologi UI untuk terus berkolaborasi, berinovasi, dan menciptakan riset-riset multidisiplin,\u201d ujarnya.\r\n\r\n\r\n\r\nSumber: Nomor: PENG-303\/UN2.HIP\/HMI.03\/2024\r\nSIARAN PERS\r\n\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Depok, 18 Juli 2024. \u201cInsanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.\u201d Pernyataan Albert Einstein tersebut dikutip oleh Prof. Corina D. S. Riantoputra Ph.D, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada peringatan Dies Natalis Ke-64, Jumat (5\/7) lalu. Menurutnya, inovasi perlu dilakukan karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"class_list":["post-8260","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8260"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8260\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8261,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8260\/revisions\/8261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}