{"id":8203,"date":"2024-01-08T03:10:25","date_gmt":"2024-01-08T03:10:25","guid":{"rendered":"https:\/\/dev-psikologi.ui.ac.id\/?p=8203"},"modified":"2024-09-26T03:11:08","modified_gmt":"2024-09-26T03:11:08","slug":"peran-ibu-dalam-pengasuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/2024\/01\/08\/peran-ibu-dalam-pengasuhan\/","title":{"rendered":"Peran Ibu dalam Pengasuhan"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog<\/span><span data-contrast=\"auto\">\u202fyang akrab disapa Bunda Romy merupakan seorang Psikolog, Dosen, dan Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi UI. Beliau juga merupakan Koordinator\u00a0 Peminatan Psikologi Anak Usia Dini Program Studi Psikologi Terapan Program Magister Fakultas Psikologi UI sekaligus Ketua Kelompok Riset <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Teacher and Student Effectiveness<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> Fakultas Psikologi UI. Bunda Romy yang pernah menjadi juri di ajang pencarian bakat (Idola Cilik, Akademi Fantasi, dan Indonesian Idol), juga sering berbagi ilmu dan pendapatnya dalam membahas masalah yang terjadi di masyarakat, sebagai seorang psikolog terkait isu anak-anak, pengasuhan, karier, moral, kreativitas\u00a0 dan berpikir kritis. Bunda Romy sudah mengembangkan minatnya terhadap bidang tersebut sejak mengajar di sanggar anak-anak saat kuliah dan bidang tersebut menjadi bidang yang beliau geluti hingga saat ini. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sebagai seorang akademisi, Bunda Romy berbagi cerita singkat tentang penelitian disertasi yang pernah dilakukannya terkait peran Ibu. Beliau memilih untuk mengambil topik terkait Ibu karena berdasarkan penelitian Antropologi, Ayah merupakan seorang pencari nafkah sehingga di Indonesia pengasuhan lebih banyak dilakukan oleh seorang Ibu. Sesungguhnya peran Ayah dan Ibu seharusnya sama dalam praktek pengasuhan. Bunda Romy juga pernah membuat buku tentang pencegahan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">stunting<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Buku tersebut menjelaskan bahwa peran Ibu dalam mencegah <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">stunting<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, sangat perlu didampingi dan didukung oleh Ayah sejak anak dalam kandungan. Dengan pendampingan tersebut, banyak hal-hal yang tidak diinginkan dapat dicegah, seperti <em>Baby Blues<\/em> yang dialami Ibu dan bahkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">stunting<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> itu sendiri yang mungkin dapat terjadi bila Ibu kurang memperhatikan asupan makanan dan stimulasi yg tepat untuk bayinya .<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Bunda Romy juga menggambarkan beberapa penelitian lainnya. Terdapat penelitian tentang bagaimana <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">parenting support<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (dukungan orang tua) berdampak pada motivasi akademis, karier anak, dan adaptasi anak di lingkungan. Dukungan yang diperlukan anak juga tidak selalu tentang dukungan orang tua saja atau keluarga, tapi ada juga dukungan teman sebaya dan guru. Kalau pada anak usia dini, dukungan awal ada di orang tua dan keluarganya. Jika sudah berkembang ke jenjang SD, SMP, dan SMA baru mulai ada dukungan teman sebaya dan guru. Dalam perkembangan anak, orang tua merupakan pihak pertama yang ditemui anak di awal kehidupannya dan menjadi cikal bakal anak belajar sesuatu. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Saat ini, salah satu topik yang sedang ditekuni Bunda Romy adalah <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Critical Thinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Bunda Romy menjelaskan bahwa saat ini syarat kualifikasi karyawan yang diharapkan oleh perusahaan adalah yang memiliki <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Critical Thinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang baik. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Critical Thinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> tidak berkembang begitu saja mengikuti perkembangan usia meskipun setiap individu memilikinya dengan porsi masing-masing. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Critical Thinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> harus distimulasi sejak dini agar dapat berkembang dengan baik. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Critical Thinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> membuat anak tidak begitu saja menerima sesuatu pendapat, tapi anak juga mencerna, menganalisis dari berbagai sudut pandang, memberikan tanggapan, dan menemukan solusi dari masalah atau keadaan yang dihadapi. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Menurut Bunda Romy, seorang Ibu perlu mengajarkan anak untuk selalu menganalisis sesuatu agar mengasah <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Critical Thinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> anak. Misalnya, saat anak ingin membuka kaleng kerupuk dan anak tidak bisa membukanya jangan cepat percaya dengan kata- kata temannya yang mengatakan bahwa membuka kaleng kerupuk itu sulit. Ibu sebaiknya tidak langsung membukakan kaleng tersebut. Ibu bisa memberikan pertanyaan yang mengarahkan anak untuk menemukan solusinya sendiri, \u201cMenurut kamu, itu bisa dibuka pakai apa ya?\u201d Anak akan mencoba mengkaji lagi apa betul membuka kaleng kerupuk itu sulit\u00a0 dan mencoba mencari cara lain untuk membuka kaleng tersebut. Jadi anak bisa berpikir bahwa ia tidak harus marah atau menendang kalengnya, tapi ia harus mencari alat bantu untuk membuka kaleng tersebut. Contoh tersebut menjadi bukti nyata bahwa Ibu bisa melatih <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Critical Thinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> anak pada situasi sederhana di kehidupan sehari-hari.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Berbicara mengenai pengasuhan, Bunda Romy mengatakan bahwa orang tua harus memiliki Ilmu Psikologi, harus belajar memahami manusia. Seorang Ibu harus banyak belajar, berlatih serta\u00a0 introspeksi diri bagaimana caranya bisa mendidik anak dengan empati dan asertif tanpa harus menggunakan emosi dan kekerasan. Di sinilah Psikologi berperan dalam pengasuhan. Ibu harus memanusiakan anak, jangan anak dianggap sebagai obyek. Ibu harus terus belajar untuk melakukan pendekatan pengasuhan yang tepat bagi anak karena tiap anak memiliki <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">individual differences<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (perbedaan individu)<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">.<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Beberapa waktu terakhir muncul tren pola asuh baru, yakni \u201cGentle Parenting\u201d. Tren tersebut muncul setelah Sarah Ockwell-Smith menerbitkan bukunya \u201cThe Gente Parenting\u201d pada tahun 2016. Pola asuh ini berfokus pada empati, rasa hormat, pengertian, dan batasan yang sehat. Menurut pemahaman Bunda Romy, pola asuh ini mirip dengan pola asuh Authoritative atau Demokratis.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Menurut Bunda Romy pola asuh merupakan pendekatan dalam mengasuh anak yang diterapkan orang tua secara konsisten dari waktu ke waktu. Pola asuh memberikan kontribusi terhadap kompetensi sosial, emosional, dan intelektual anak. Berdasarkan derajat kehangatan orang tua dengan anak dan kontrol orang tua terhadap anak, terdapat empat jenis pola asuh.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Bunda Romy menjelaskan empat jenis pola asuh berdasarkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Baumrind\u2019s Parenting Styles Model<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Bila Kehangatan orang tua rendah, tetapi kontrol orang tua tinggi merupakan pola asuh Authoritarian (Otoriter), orang tua berperan sebagai \u201cbos\u201d, kaku, penuh aturan dan arahan. Dengan pola asuh ini, anak menjadi mudah cemas, kurang percaya diri, kurang komunikatif, sulit untuk membuat keputusan, cenderung memberontak, mudah sedih dan tertekan, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan idealis. Bila Kehangatan orang tua tinggi dan kontrol orang tua tinggi merupakan pola asuh Authoritative (Demokratis), anak bebas berkreasi dengan batasan dan pengawasan dari orang tua. Dengan pola asuh ini, anak menjadi mudah membantah karena semua perlu penjelasan yang jelas, ceria, menyenangkan, kreatif, cerdas, percaya diri, terbuka pada orang tua, tidak mudah stres dan depresi, serta berprestasi baik. Kehangatan orang tua tinggi, tetapi kontrol orang tua rendah merupakan pola asuh Indulgent (Permisif), orang tua minim arahan, aturan tidak jelas, anak cenderung menjadi \u201cbos\u201d. Dengan pola asuh ini, anak menjadi manja, kurang dewasa, kurang teratur, egois, mudah menyerah, tidak disiplin, percaya diri, kreatif, dan asertif. Kehangatan orang tua rendah dan kontrol orang tua rendah merupakan pola asuh Uninvolved (Tidak Terlibat), orang tua berjarak dengan anak, tetapi tetap memperhatikan kebutuhan dasar anak. Dengan pola asuh ini, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-esteem<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> anak kurang berkembang, cenderung <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">immature, <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">kurang perhatian, terhambat dalam penyesuaian diri, spontan, dan berani mencoba.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Bunda Romy menjelaskan bahwa empat pola asuh tersebut dinyatakan efektif jika diterapkan pada situasi dan kondisi yang tepat. Bunda Romy menyarankan orang tua untuk menggunakan berbagai pola asuh secara bergantian menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Misalnya, saat anak sedang mendekati bahaya,\u00a0 Authoritarian (Otoriter) merupakan pola asuh yang paling tepat pada situasi ini karena langsung melarang anak secara cepat dan tegas. Jika anak sedang membuat kerajinan tangan, orang tua harus memberikan kebebasan anak dalam berekspresi sehingga pola asuh yang memungkinkan dalam situasi ini adalah pola asuh Indulgent (Permisif). Oleh karena itu, seorang Ibu harus bisa menempatkan diri dan memahami situasi anak sehingga bisa memilih pola asuh yang tepat di segala situasi.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Bunda Romy juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai seorang Ibu. Saat anaknya masih kecil, Bunda Romy membuatkan program sederhana untuk perkembangan belajar anaknya di rumah. Misalnya, target hari pertama adalah pembelajaran warna, Bunda Romy akan menyediakan kaset lagu-lagu terkait warna, menyiapkan buah-buah sesuai warna yang sedang dipelajari, ruangan rumah ditempel hiasan warna tersebut, dan dalam satu hari pengasuh bertugas memperkenalkan warna kepada anak di setiap aktivitasnya. Saat Bunda Romy pulang bekerja, beliau akan mengevaluasi hasil pembelajaran hari itu dengan bertanya kepada anaknya apakah ia sudah mengetahui dan hafal setiap warna yang dipelajari. Program Bunda Romy ini membuat sebuah produk susu anak ingin berkolaborasi untuk membuat sebuah platform terkait <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">multiple intelligence<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">( kecerdasan majemuk). Para Ibu dapat mengikuti asesmen untuk mengetahui bagian <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">multiple intelligence<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> anak yang masih perlu ditingkatkan dan akan diberikan referensi kegiatan yang dapat meningkatkannya.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Untuk menjaga kesehatan fisik dan mental dalam menjalankan perannya, seorang Ibu harus memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dirinya, lalu mendapat <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">feedback <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">tentang kelebihan dan kekurangannya sehingga\u00a0 konsep diri, gambaran diri jadi lebih jelas. Ibu jadi mengetahui kapasitas dirinya, mengukur batas kemampuannya, dan mengetahui bantuan apa saja yang ia perlukan. Ibu juga perlu didampingi oleh Ayah dalam pengasuhan. Selain itu, Ibu juga perlu berkomunikasi secara asertif mengenai kebutuhan dan harapannya terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengasuhan seperti keluarga dan Asisten Rumah Tangga.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201c Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, Ibu harus punya Ilmu Psikologi untuk belajar memahami manusia.\u00a0 Kita harus tanya kepada anak, anak adalah guru utama karena anak bisa memberi tahu apa yang dirasakan dan diinginkan. Kemudian banyak membaca, melihat informasi dan berita\u00a0 yang bisa mengembangkan kemampuan menjadi orang tua yang luar biasa\u201d, ucap Bunda Romy.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog\u202fyang akrab disapa Bunda Romy merupakan seorang Psikolog, Dosen, dan Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi UI. Beliau juga merupakan Koordinator\u00a0 Peminatan Psikologi Anak Usia Dini Program Studi Psikologi Terapan Program Magister Fakultas Psikologi UI sekaligus Ketua Kelompok Riset Teacher and Student Effectiveness Fakultas Psikologi UI. Bunda Romy yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":8204,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"class_list":["post-8203","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8203","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8203"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8203\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8205,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8203\/revisions\/8205"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8203"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8203"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8203"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}