{"id":11864,"date":"2026-04-16T03:39:21","date_gmt":"2026-04-16T03:39:21","guid":{"rendered":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/?p=11864"},"modified":"2026-04-16T03:43:08","modified_gmt":"2026-04-16T03:43:08","slug":"kuliah-umum-biopsikologi-bedah-evolusi-kontrol-dan-pembelajaran-motorik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/2026\/04\/16\/kuliah-umum-biopsikologi-bedah-evolusi-kontrol-dan-pembelajaran-motorik\/","title":{"rendered":"Kuliah Umum Biopsikologi: Bedah Evolusi Kontrol dan Pembelajaran Motorik"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>DEPOK<\/strong>\u2013 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPSI UI) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk <em>&#8220;Basic Motor Control and Learning&#8221;<\/em> pada 13 April 2026 di Ruang Auditorium Gedung H FPSI UI. Acara yang berlangsung di lingkungan Fakultas Psikologi UI ini menghadirkan <strong>Prof. Dr. Bert Steenbergen<\/strong>, pakar dari Behavioural Science Institute, Radboud University, Belanda, sebagai pembicara utama.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuliah ini memberikan tinjauan mendalam mengenai bagaimana manusia mengoordinasikan gerakan tubuh yang kompleks serta strategi psikologis untuk mengoptimalkan proses pembelajaran motorik.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Steenbergen membuka pemaparan dengan menilik sejarah registrasi gerak yang dipelopori oleh Eadweard Muybridge (1830-1904) melalui teknik fotografi berurutan. Saat ini, teknologi tersebut telah bertransformasi menjadi sistem penangkapan gerak 3D modern seperti <em>Optotrak<\/em> dan <em>VICON<\/em>. Teknologi ini memungkinkan para peneliti mengukur kinematika sendi dan anggota tubuh dengan presisi tinggi melalui penggunaan <em>passive markers<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kontrol Motorik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu tantangan terbesar dalam biopsikologi adalah memahami bagaimana otak mengontrol tubuh yang memiliki lebih dari 100 sendi, 750 otot, dan 10.000 unit motorik. Konsep yang diperkenalkan oleh Nikolai Bernstein ini menyoroti perlunya koordinasi agar gerakan menjadi efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Sistem saraf manusia mengatasi tantangan ini melalui tiga tahap sistematis:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Tahap Awal:<\/strong> Membekukan atau menggabungkan derajat kebebasan untuk menyederhanakan gerakan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Tahap Pengembangan:<\/strong> Secara bertahap melibatkan lebih banyak derajat kebebasan untuk fleksibilitas.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Tahap Mahir:<\/strong> Memanfaatkan gaya lingkungan seperti gravitasi dan elastisitas untuk efisiensi maksimal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Prof. Steenbergen mengilustrasikan fenomena ini dengan analogi <em>trade-off<\/em> antara troli belanja (kontrol terbatas) versus mobil (fleksibilitas tinggi namun membutuhkan kontrol lebih besar).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Efektivitas Pembelajaran Implisit dan Peran Atensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam domain pembelajaran motorik, kuliah ini membahas tiga tahap akuisisi keterampilan menurut Fitts &amp; Posner (1967): tahap verbal-kognitif (bergantung pada pemikiran sadar), tahap asosiatif-motorik (penyempurnaan konsistensi), dan tahap otonom (gerakan otomatis).<\/p>\n\n\n\n<p>Poin krusial yang ditekankan adalah keunggulan pembelajaran implisit dibandingkan metode eksplisit:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Ketahanan di Bawah Tekanan:<\/strong> Studi klasik Masters (1992) pada olahraga golf menunjukkan bahwa pelajar implisit\u2014yang belajar melalui analogi dan observasi dengan kesadaran sadar minimal\u2014memiliki performa lebih stabil di bawah tekanan dibandingkan pelajar eksplisit yang membebani memori kerja dengan aturan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Inklusivitas:<\/strong> Metode implisit terbukti efektif tidak hanya pada anak dengan perkembangan tipikal, tetapi juga pada anak dengan <em>Developmental Coordination Disorder<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Prof. Steenbergen juga merevolusi pandangan umum mengenai pemberian <em>feedback<\/em>. Meskipun <em>augmented feedback<\/em> (pengetahuan hasil dan kualitas gerak) penting, dosis yang diberikan harus tepat.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Dosis Tepat:<\/strong> Memberikan umpan balik secara jarang namun terjadwal (misalnya setiap percobaan ke-3 atau ke-6) terbukti menghasilkan retensi jangka panjang yang lebih baik daripada memberikan umpan balik di setiap percobaan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kemandirian:<\/strong> Umpan balik ekstrinsik harus bersifat melengkapi dan tidak boleh menggantikan umpan balik intrinsik (visual, taktil, dan proprioseptif) dari diri pelajar sendiri.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kuliah umum ini ditutup dengan diskusi mengenai pemanfaatan <em>biofeedback<\/em> (EMG) dan <em>neurofeedback<\/em> (EEG) yang kini mulai banyak diterapkan dalam konteks rehabilitasi medis.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>Kontak Media:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Humas Fakultas Psikologi<\/p>\n\n\n\n<p>Universitas Indonesia<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"562\" data-id=\"11868\" src=\"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00721-1000x562.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11868\" srcset=\"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00721-1000x562.jpg 1000w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00721-300x169.jpg 300w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00721-768x432.jpg 768w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00721-1536x863.jpg 1536w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00721.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"562\" data-id=\"11866\" src=\"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00701-1000x562.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11866\" srcset=\"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00701-1000x562.jpg 1000w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00701-300x169.jpg 300w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00701-768x432.jpg 768w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00701-1536x863.jpg 1536w, https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/04\/DSC00701.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DEPOK\u2013 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPSI UI) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk &#8220;Basic Motor Control and Learning&#8221; pada 13 April 2026 di Ruang Auditorium Gedung H FPSI UI. Acara yang berlangsung di lingkungan Fakultas Psikologi UI ini menghadirkan Prof. Dr. Bert Steenbergen, pakar dari Behavioural Science Institute, Radboud University, Belanda, sebagai pembicara utama. Kuliah ini memberikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":11865,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"class_list":["post-11864","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11864","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11864"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11864\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11873,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11864\/revisions\/11873"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11865"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11864"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11864"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.ui.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11864"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}