Tekanan Era Digital Menguat, Riset Ungkap Faktor Utama Pembentuk Keluarga Tangguh

Di tengah meningkatnya tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, dan perubahan cepat di era digital, ketahanan keluarga menjadi isu yang semakin penting. Penelitian disertasi terbaru dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang dilakukan oleh dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Muh. Anwar Fuady menemukan bahwa keluarga yang tangguh tidak hanya dibentuk oleh kondisi ekonomi atau minimnya masalah, tetapi juga oleh kekuatan psikologis pasangan, keseimbangan kehidupan kerja-keluarga, dan kualitas komunikasi dalam rumah tangga. Hasil penelitian ini dipaparkan di hadapan 7 dewan penguji pada saat ujian promosi Doktor yang dilaksanakan pada Jum’at (10/07).

Penelitian ini menggunakan perspektif Neo-Ecological Theory dan melibatkan dua studi. Studi pertama meneliti perspektif istri/ibu, sedangkan studi kedua menggunakan pendekatan dyadic dengan melibatkan suami dan istri secara bersamaan. Hasilnya menunjukkan bahwa resiliensi keluarga merupakan proses yang saling terkait dan dipengaruhi oleh dinamika hubungan pasangan.

Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa psychological capital atau modal psikologis menjadi faktor penting dalam membangun resiliensi keluarga. Individu yang memiliki harapan, optimisme, efikasi diri, dan ketahanan psikologis lebih mampu menghadapi tekanan keluarga secara adaptif. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa kekuatan mental saja tidak cukup. Modal psikologis perlu diterjemahkan ke dalam kemampuan nyata untuk menjaga work-life balance. Pada suami, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga terbukti menjadi jalur penting yang memperkuat resiliensi keluarga.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa keseimbangan hidup istri tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga memengaruhi keseimbangan hidup suami. Ketika istri mampu menjaga work-life balance dengan baik, kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya work-life balance suami dan memperkuat resiliensi keluarga pasangan.

Selain itu, komunikasi keluarga muncul sebagai fondasi penting dalam ketahanan keluarga. Komunikasi yang terbuka, suportif, dan adaptif membantu pasangan membagi tekanan, mengelola konflik, dan membangun strategi bersama menghadapi masalah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi keluarga memiliki pengaruh langsung terhadap resiliensi keluarga, baik pada suami maupun istri.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa resiliensi keluarga bukan tanggung jawab satu pihak saja. Ketahanan keluarga tidak boleh dibebankan hanya kepada istri ataupun hanya kepada suami. Sebaliknya, keluarga yang resilien dibangun melalui kerja sama, dukungan psikologis, negosiasi peran, dan komunikasi yang sehat antar pasangan.

Secara praktis, hasil penelitian ini membuka peluang pengembangan program penguatan keluarga yang lebih komprehensif. Intervensi tidak cukup hanya fokus pada individu, tetapi perlu melibatkan pasangan sebagai satu sistem relasional. Penguatan psychological capital, pelatihan work-life balance, dan komunikasi pasangan menjadi strategi penting dalam membangun keluarga yang lebih tangguh di tengah tantangan kehidupan modern.

Kontak Media

Humas Fakultas Psikologi

Universitas Indonesia