DEPOK– Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPSI UI) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Basic Motor Control and Learning” pada 13 April 2026 di Ruang Auditorium Gedung H FPSI UI. Acara yang berlangsung di lingkungan Fakultas Psikologi UI ini menghadirkan Prof. Dr. Bert Steenbergen, pakar dari Behavioural Science Institute, Radboud University, Belanda, sebagai pembicara utama.
Kuliah ini memberikan tinjauan mendalam mengenai bagaimana manusia mengoordinasikan gerakan tubuh yang kompleks serta strategi psikologis untuk mengoptimalkan proses pembelajaran motorik.
Prof. Steenbergen membuka pemaparan dengan menilik sejarah registrasi gerak yang dipelopori oleh Eadweard Muybridge (1830-1904) melalui teknik fotografi berurutan. Saat ini, teknologi tersebut telah bertransformasi menjadi sistem penangkapan gerak 3D modern seperti Optotrak dan VICON. Teknologi ini memungkinkan para peneliti mengukur kinematika sendi dan anggota tubuh dengan presisi tinggi melalui penggunaan passive markers.
Kontrol Motorik
Salah satu tantangan terbesar dalam biopsikologi adalah memahami bagaimana otak mengontrol tubuh yang memiliki lebih dari 100 sendi, 750 otot, dan 10.000 unit motorik. Konsep yang diperkenalkan oleh Nikolai Bernstein ini menyoroti perlunya koordinasi agar gerakan menjadi efektif.
Sistem saraf manusia mengatasi tantangan ini melalui tiga tahap sistematis:
- Tahap Awal: Membekukan atau menggabungkan derajat kebebasan untuk menyederhanakan gerakan.
- Tahap Pengembangan: Secara bertahap melibatkan lebih banyak derajat kebebasan untuk fleksibilitas.
- Tahap Mahir: Memanfaatkan gaya lingkungan seperti gravitasi dan elastisitas untuk efisiensi maksimal.
Prof. Steenbergen mengilustrasikan fenomena ini dengan analogi trade-off antara troli belanja (kontrol terbatas) versus mobil (fleksibilitas tinggi namun membutuhkan kontrol lebih besar).
Efektivitas Pembelajaran Implisit dan Peran Atensi
Dalam domain pembelajaran motorik, kuliah ini membahas tiga tahap akuisisi keterampilan menurut Fitts & Posner (1967): tahap verbal-kognitif (bergantung pada pemikiran sadar), tahap asosiatif-motorik (penyempurnaan konsistensi), dan tahap otonom (gerakan otomatis).
Poin krusial yang ditekankan adalah keunggulan pembelajaran implisit dibandingkan metode eksplisit:
- Ketahanan di Bawah Tekanan: Studi klasik Masters (1992) pada olahraga golf menunjukkan bahwa pelajar implisit—yang belajar melalui analogi dan observasi dengan kesadaran sadar minimal—memiliki performa lebih stabil di bawah tekanan dibandingkan pelajar eksplisit yang membebani memori kerja dengan aturan.
- Inklusivitas: Metode implisit terbukti efektif tidak hanya pada anak dengan perkembangan tipikal, tetapi juga pada anak dengan Developmental Coordination Disorder.
Prof. Steenbergen juga merevolusi pandangan umum mengenai pemberian feedback. Meskipun augmented feedback (pengetahuan hasil dan kualitas gerak) penting, dosis yang diberikan harus tepat.
- Dosis Tepat: Memberikan umpan balik secara jarang namun terjadwal (misalnya setiap percobaan ke-3 atau ke-6) terbukti menghasilkan retensi jangka panjang yang lebih baik daripada memberikan umpan balik di setiap percobaan.
- Kemandirian: Umpan balik ekstrinsik harus bersifat melengkapi dan tidak boleh menggantikan umpan balik intrinsik (visual, taktil, dan proprioseptif) dari diri pelajar sendiri.
Kuliah umum ini ditutup dengan diskusi mengenai pemanfaatan biofeedback (EMG) dan neurofeedback (EEG) yang kini mulai banyak diterapkan dalam konteks rehabilitasi medis.
Kontak Media:
Humas Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia



