Riset Doktor UI: Mengapa Orang Terjebak Pinjol dan Investasi Bodong? Ternyata Emosi Lebih Dominan daripada Logika

DEPOK, 5 Februari 2026 – Fenomena kerugian finansial masif di Indonesia akibat investasi ilegal dan jeratan pinjaman online (pinjol) kini telah mencapai titik kritis. Data menunjukkan kerugian investasi bodong menyentuh Rp140 triliun sejak 2017, sementara sektor pinjol menyumbang kerugian Rp120 triliun pada tahun 2023 saja. Menanggapi krisis ini, sebuah penelitian doktoral di Universitas Indonesia berhasil mengungkap mekanisme psikologis di balik keputusan keuangan yang sangat berisiko tersebut.

Dalam Sidang Promosi Doktor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Miriam Rustam memaparkan disertasinya yang berjudul “Peran Paralel Emosi Antisipatif dan Emosi yang Diantisipasi dalam Perilaku Keuangan Berisiko dengan Tingkat Konstrual Sebagai Moderator”. Penelitian ini memperkenalkan “Kerangka Emosi Integral Paralel” (KEIP) untuk menjelaskan mengapa individu tetap mengambil risiko tinggi meski bahayanya nyata.

Melalui serangkaian penelitian terhadap lebih dari 900 responden, Miriam menemukan bahwa dua tipe emosi bekerja secara bersamaan saat individu menghadapi pilihan keuangan berisiko

  1. Emosi Antisipatif: Perasaan langsung yang dialami saat mempertimbangkan pilihan (misalnya: antusiasme seketika saat melihat peluang untung).
  2. Emosi yang Diantisipasi: Prediksi mengenai perasaan di masa depan setelah hasil keputusan terjadi (misalnya: membayangkan kebahagiaan saat investasi berhasil).

Riset ini membuktikan bahwa intensi mengambil risiko meningkat tajam ketika informasi disajikan secara abstrak (fokus pada tujuan besar seperti “modal usaha”) dan dibingkai dalam konteks keuntungan (gain). Dalam kondisi ini, pertahanan psikologis seseorang melemah karena hanya fokus pada bayangan kesuksesan tanpa mempertimbangkan risiko kegagalan secara mendalam.

Berdasarkan temuan tersebut, Miriam Rustam merekomendasikan agar edukasi literasi keuangan di Indonesia tidak hanya mengajarkan angka, tetapi juga menekankan pada:

  • Pengelolaan Emosi: Melatih masyarakat menyadari dorongan emosi instan yang muncul saat melihat tawaran keuangan.
  • Penyajian Informasi Konkret: Memberikan gambaran detail mengenai risiko secara spesifik—seperti rincian skema pembayaran atau konsekuensi gagal bayar—untuk menekan pengambilan keputusan yang gegabah.