Doktor UI Teliti Pemulihan Adiksi Narkoba dalam Perspektif Trauma Perkembangan dan Model Meaning Making

Depok, 16/12/2022. Adiksi dan pemulihan narkoba merupakan proses yang kompleks dan berlangsung dalam lintasan, mulai dari kehidupan individu sebelum menggunakan narkoba dan selama adiksi narkoba, hingga sobriety, sebagai tanda tercapainya pemulihan.

Studi ini mendalami proses pemulihan dari adiksi narkoba dengan mengintegrasikan perspektif Perkembangan dan Humanistik-Eksistensial melalui Model Meaning Making. “Model Meaning Making secara dinamis dan komprehensif menjelaskan pengalaman trauma perkembangan berupa Adverse Childhood Experiences (ACE) hingga tercapainya pemulihan” ujar Tri Iswardani dalam sidang terbuka promosi doktor Ilmu Psikologi , Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (F. Psikologi UI), dengan judul disertasi “Pemulihan Adiksi Narkoba dalam Perspektif Trauma Perkembangan dan Model  Meaning Making.

Penelitian ini menerapkan pendekatan mixed methods sekuensial. Studi 1 melibatkan 251 pecandu dalam masa pemulihan, berusia 18-58 tahun, yang menjalani rehabilitasi dan yang telah menyelesaikan program rehabilitasi. Pengukurannya adalah Adverse Childhood Experience (ACE), Beck’s Depression Inventory-II (BDI-II), Meaning in Life Questionnaire (MLQ), dan Drug Addiction Screening Test-20 (DAST-20).

Analisis Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan bahwa model konseptual mengenai hubungan antara Trauma Perkembangan, Depresi, Makna Hidup, dan Adiksi Narkoba sesuai dengan data empiris pada model dan tergolong marginal fit (RMSEA= .039 , CFI= 0,858, SRMR= 0,074). Makna Hidup Presence secara signifikan memediasi hubungan antara Trauma Perkembangan dan Adiksi Narkoba (b=.070, SE=.033, p=.035). Studi 2 adalah studi kasus yang melibatkan lima partisipan recovering addict.

Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang mengacu pada perkembangan perilaku adiksi narkoba dan Model Meaning Making dari Park (2010). Hasil analisis Studi 1 dan Studi 2 menunjukkan bahwa Model Meaning Making sebagai kerangka teori dapat menjelaskan seluruh fenomena adiksi narkoba dari kejadian hingga pemulihan melalui jalur perkembangan dan pemulihan.

Pemulihan adiksi narkoba berjalan seiring dengan pemulihan trauma masa kanak-kanak dan krisis lain dalam kehidupan partisipan. Pemulihan adiksi narkoba terjadi ketika negative belief terkait ACE dapat diinterpretasikan secara konstruktif melalui proses meaning making menggunakan strategi coping yang tepat yang memakan waktu lama, sirkular, dan sering mengalami stuck point. ACE, yang berpotensi menyebabkan distress dan negative belief, juga dapat mengarah pada perilaku penggunaan narkoba jika strategi coping tidak konstruktif.

Selama penggunaan narkoba, false-positive belief muncul, yang menyebabkan penggunaan narkoba terus berlanjut. Ketika kesulitan berulang kali terjadi hingga mencapai titik terendah dan menimbulkan gejala depresi, akhirnya terjadilah meaning making yang konstruktif.

Gejala depresi dapat mengarah pada meaning making yang lebih konstruktif dan belief baru untuk menggantikan yang sebelumnya. Studi ini juga menemukan strategi tambahan yaitu proses spiritual, selain proses kognitif dan emosional. Berdasarkan lintasan perkembangan, adiksi narkoba mungkin disebabkan oleh pola asuh yang permisif atau otoriter.

Ketidakhadiran secara emosional orang tua/pengasuh juga menyebabkan pola insecure attachment, konsep diri negatif, dan self-esteem rendah. Kekambuhan terjadi karena tidak ada strategi coping yang memadai untuk menghadapi distress. Sebagai implikasi praktis, hasil penelitian ini menyarankan penerapan program trauma-informed care (TIC) dalam program pemulihan adiksi narkoba khususnya pencegahan kekambuhan.

Sidang promosi doktor Tri Iswardani diketuai Dekan F. Psikologi UI Dr. Bagus Takwin, M.Hum., Psikolog, dengan promotor Dra. Winarini Wilman, M.Ed.St., Ph.D., Psikolog., dan Prof. Irwanto, Ph.D., Psikolog selaku Kopromotor. Tim penguji dalam sidang tersebut adalah Prof. Dr. Elizabeth Kristi Poerwandari M.Hum., Psikolog (Ketua) dan 3 anggota tim penguji yakni Dra. Riza Sarasvita, M.Si., MHS., Ph.D., Psikolog, Dr. Adriana Soekandar, M.S., Psikolog., Dr. Sri Redatin Retno Pudjiati, M.Si., Psikolog.

Tri Iswardani merupakan Psikolog Klinis dengan spesialisasi pemulihan trauma dan adiksi. Saat ini bekerja sebagai dosen paruh waktu di F. Psikologi UI, Psikolog di Rumah Sakit Puri Cinere, konsulen Badan Narkotika Nasional dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Wakil Ketua Himpsi Jaya, dan Presiden EMDR Asia.

 

We are using cookies to give you the best experience. You can find out more about which cookies we are using or switch them off in privacy settings.
AcceptPrivacy Settings

GDPR

X